Leena menghindar dan melepaskan pukulan menyilang yang memicu semburan api ke arah langit. Dengan ranah yang lebih tinggi, Leena tidak perlu bersusah payah menahan serangan lawannya namun dia juga tidak ingin terlihat terlalu jauh perbedaan diantara mereka mengingat belum pernah terjadi ada seorang immortal diusia muda.

Leena memutuskan untuk mengeluarkan kembali teknik jurus dengan sedikit energi spiritual.

"Rising Flame Ascension!"

Begitu Leena meneriakkan nama jurusnya, lingkaran api menyala dari telapak kakinya, membentuk simbol merah menyala di tanah berbentuk teratai bersudut delapan. Dalam sekejap, tubuhnya melesat ke udara, diselimuti pusaran api berbentuk naga yang berputar mengitari tubuhnya ke atas.

Api yang muncul tidak sekadar menyala namun mengaum, membentuk spiral vertikal membubung seolah-olah nyala itu ingin membakar langit. Di belakangnya, jejak kobaran terbentuk seperti ekor meteor merah keemasan.

Setiap helaan tangan Leena memunculkan sayap-sayap api dari punggungnya, dan saat tubuhnya mencapai puncak lompatan, dia mengepalkan tinjunya dan melepaskan pukulan ke bawah yang memperbesar ledakan spiral api ke seluruh penjuru.

Gelombang panas yang ditinggalkan menjalar ke sekeliling, mencairkan es di area pertarungan, dan menciptakan tekanan udara menindas yang bisa membuat lawan kehilangan keseimbangan spiritualnya. Langit mendidih, tanah bergetar. Namun jurus api Leena berhasil mematahkan tebasan dingin sang guru, membuat pria tua itu terhempas beberapa langkah.

Di sisi lain, Zhou Feng melihat gurunya belum dapat mengalahkan Leena, segera memaksakan diri untuk bangun dan menyeret tubuhnya ke arah Lynx yang berdiri tenang di samping Meiyu.

"Kalau kau tidak menyerah, aku bunuh pria ini sekarang!" teriak Zhou Feng sambil mengacungkan pedang ke leher Lynx.

Sang guru menoleh dan berteriak, "Zhou Feng! Hentikan! Itu perbuatan memalukan!"

Meiyu yang cemas tanpa dia sadari langsung teriak, "Zhou Feng, kau pengecut. Beraninya kamu memanfaatkan orang yang lebih lemah untuk mengancam."

Sementara Leena hanya tersenyum, Lynx tertawa ringan. "Ternyata... nama besar Sekte Pedang Es memang layak, tapi tak kusangka masih menyimpan tikus pengecut seperti ini."

Wajah guru itu memerah, murka bukan main. Tapi sebelum sempat menegur lagi, Zhou Feng yang murka sudah menerjang dan menebaskan pedangnya ke leher Lynx.

"Matilah kamu."

"Jangan!" Teriak Meiyu.

"Hentikan Zhou Feng!" Bentak guru dengan marah. Namun dia terlambat untuk menghentikannya.

CLANG!

Pedangnya patah saat bersentuhan dengan leher Lynx.

Zhou Feng terbelalak dengan tatapan tidak percaya. Pedang spiritual miliknya hancur seperti menabrak batu ilahi. Lynx hanya menatapnya dengan senyum datar.

"Bagaimana mungkin, pedang ini bahkan dapat menghancurkan gunung. Apa yang sudah kamu lakukan?"  Teriak Zhou Feng marah. Kebenciannya semakin meningkat.

Tiba-tiba langit bergemuruh. Cahaya biru pucat menyapu area itu.

"Berhenti!" suara berat menggema dari langit. Seorang pria tua berjubah panjang mendarat perlahan, aura Grandmaster Langit menyelimuti seluruh area. Jubahnya mengepak, menabur butiran es yang berkelip seperti bintang beku.

"Tetua datang, baguslah." teriak para murid sekte Pedang Es.

Pria tua tersebut menatap Leena dan Lynx dengan tajam, "Muridku memang salah, aku mewakili dia untuk meminta maaf kepada kalian. Tetapi kalian juga harus melihat kekuatan Sekte Pedang Es yang sejati agar tidak ada yang meremehkannya!"

Ia mengangkat pedang panjang kristal biru, udara di sekitarnya mendengung oleh gemetar qi dingin.

“Eternal Glacier Dominion”

Tetua sekte menekan ujung pedang ke depan. Cahaya biru pucat melebar, membentuk lingkaran es raksasa mengelilingi Lynx. Di tengah lingkaran muncul inti salju berputar, menyerupai mata badai berwarna perak. Suara retakan menggema, tanah di bawah lengkungan cahaya langsung membeku, menciptakan dataran licin setebal satu depa.

Ia menebas sekali. Lingkaran es turun perlahan bagai kubah langit jatuh, memancarkan salju sehalus jarum. Setiap butir menyentuh udara lalu berubah menjadi kristal tajam yang berputar cepat, membentuk pusaran pisau es. Suhu merosot tajam, napas para murid yang berada di sekitar area segera membeku menjadi asap putih kaku.

Leena segera melompat menghalangi dan menghadapi hujan kristal itu. Meski dia yakin Lynx dapat mengatasi dengan mudah, namun dia ingin mencoba setiap jurus baru yang dia miliki.

Awalnya tetua yang melihat pemuda yang menghina sektenya hanya forging qi tingkat dua, tetua tersebut hanya ingin menghukumnya dengan kekuatan yang sudah dibatasi sekaligus memperlihatkan sekte Pedang Es tidak bisa di rendahkan, namun saat melihat wanita yang ranahnya tidak bisa dia rasakan namun mampu menekan auranya, tetua tersebut segera menaikkan kekuatannya.

Segera setiap serpihan es berusaha membekukan meridian dan menelan api jiwa Leena Lapisan es merayap di udara, mencari retakan terkecil pada pertahanan lawan. Jika kubah mencapai tanah sepenuhnya, ruang di dalamnya akan terkunci, waktu seolah melambat, dan siapapun di dalamnya akan terjerat penjara es absolut yang memakan energi spiritual hingga habis.

Leena berdiri tegak di bawah pusaran kristal salju dan cahaya beku yang turun seperti kehancuran surgawi. Saat Eternal Glacier Dominion menutup langit, semua orang bersiap menyaksikan Leena dikubur oleh kekuatan Grandmaster Langit.

Namun…

Seketika, aura menyala dari tubuh Leena. Api merah keemasan meledak dari inti jiwanya, membubung seperti tiang cahaya yang membelah kubah salju.

BOOOOM!

Ledakan energi spiritual itu menghancurkan lapisan es, melelehkan pusaran jarum-jarum kristal. Udara yang tadinya membeku kini mendesis panas, membentuk gelombang udara bergelombang. Tanah yang membeku retak dan kembali mencair. Para murid terpental, para tetua bergidik ngeri.

Tatapan semua orang tertuju pada Leena yang kini bersinar bagaikan dewi api.

"Itu... bukan ranah Grandmaster..." gumam sang guru yang memperhatikan. "Mustahil... itu... aura Immortal!"

Suasana berubah hening ketika Leena dengan tenang melangkah maju. Tetua yang menyerangnya menundukkan kepala, tidak percaya bahwa serangannya dihancurkan begitu saja.

"Kami datang bukan untuk mencari musuh. Aku sengaja mengalah sejak tadi dan tidak ingin memperpanjang pertempuran. Bolehkah kita bicara?" ucap Leena datar namun tegas.

"Kamu? Immortal. Bagaimana mungkin seorang gadis muda sepertimu bisa mencapai ranah ini?" kata tetua dengan tidak percaya.

"Tetua, seperti yang istriku bilang, kami datang bukan untuk mencari musuh, bisakah kita berbicara terlebih dahulu? Ada hal penting yang harus kami bicarakan"

"Tetua, jangan percaya mereka, pasti mereka menipu kita. Tidak mungkin seorang immortal diusia muda, apalagi dia seorang wanita." Zhou Feng teriak marah. Meski dia tidak bisa merasakan ranah Leena, namun dia sangat yakin jika mustahil seseorang mencapai ranah immortal di usia muda.Meskipun banyak immortal yang tetap terlihat muda, tetapi wajah mereka hanya terlihat di usia di atas empat puluhan.

"Diam!" bentak tetua tersebut. Dia bukanlah orang yang bodoh. Seseorang yang mampu menghentikan serangannya dengan mudah tidak mungkin memiliki ranah dibawahnya. Dia tidak boleh bertindak sembarangan dan menambah masalah bagi sektenya.

"Nona, maafkan saya. Saya hanya ingin menguji dan tidak bermaksud melukai." Nada suara tetua terdengar lebih ramah.

"Tetua, kami mengerti. Harap tetua juga memaafkan kami yang membela diri karena tiba-tiba di serang oleh para murid sekte Pedang Es." Kata Leena dengan nada lembut namun menusuk.

Sang Guru yang mendengar kata Leena mengeluarkan keringat dingin, karena secara tidak langsung dia ikut serta mengijinkan para murid untuk menyerangnya. Dengan cepat dia segera mendatangi Leena. "Maafkan saya Nona. Ini hanya kesalahpahaman. Kami mengira Nona hendak mencari masalah di tempat ini."

"Guru Wang, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kalian seharusnya merekrut murid baru? Kenapa timbul masalah seperti ini?" tatapan tajam tetua mengarah kepada Guru Wang.

Lynx yang sedang buru-buru segera mendekat, "Tetua, ini hanya masalah kecil, tidak perlu di permasalahkan. Kami sedang ada hal penting yang ingin di bahas dengan sekte Pedang Es. Bisakah kami menemui Ketua Sekte?"

Tetua memandangi Lynx, ranahnya yang lemah membuatnya ragu sejenak namun melihat wanita disampingnya yang kemungkinan seorang Immortal membuatnya tidak bisa menolaknya begitu saja.

"Nona, Tuan, Saya tidak bisa memutuskan. Tapi kalian berdua bisa mengikuti saya menuju sekte kami. Saya akan memberi tahukan ketua Sekte mengenai kedatangan kalian." kata Tetua dengan sikap masih waspada.

Lynx dan Leena menganggukkan kepala dan segera terbang menyusul tetua sekte Pedang Es menuju Sekte mereka.

Sementara itu guru Wang setelah melihat kepergian mereka segera mendatangi Zhao Feng."Murid kurang ajar. Gara-gara kamu, hampir sekte kita celaka. Aku akan menyelidiki masalah ini agar dapat pertanggung jawabkan kepada ketua Sekte."

"Guru Wang Kai, maafkan aku. Mereka terlalu mencurigakan. Aku hanya ingin menjaga keselamatan Sekte kita." Jawab Zhao Feng berusaha mencari alasan.

Tanpa memperdulikan alasan Zhao Feng, Guru Wang memandang para murid lainnya,"Kurung dia dan selidiki apa yang sebenarnya terjadi!."

"Guru, tolong.... Guru...." teriak Zhao Feng dengan menyedihkan. Dia merasa masa depannya hancur karena masalah ini, penyesalah menusuk hatinya.

Guru Wang memandang ke langit kearah pasangan tadi menuju, "Dunia ini ternyata memiliki generasi muda yang sangat luar biasa. Semoga mereka bukan lawan sekte Pedang Es." batinnya.

